Pengalaman ini saya tulis berdasarkan perjalanan wisata yang saya lalui bersama sembilan orang temen-temen kuliah konsentrasi kontrol pada pertengahan Januari 2011. Dimana UAS dan LPJ HME 2010 telah selesai dilaksanakan. Mengapa kami memilih museum sebagai kunjungan saat itu??? Padahal museum kan identik dengan barang yang jadul, kuno, serem , angker, ngebosenin dll. Tapi untuk Museum yang satu ini beda koq, jauh dari kata-kata itu semua walaupun memang suasana masih agak jadul-jadul gitu. Museum dengan belasan koleksi lokomotif ini, sudah terkenal menjadi objek wisata sejarah di kawasan Ambarawa Jawa Tengah, bukan hanya terkenal di dalam negeri saja lho tapi sudah terkenal hingga penjuru dunia. Hal ini dibuktikan dengan seringnya rombongan turis luar negeri memasukkan Museum KA Ambarawa ke dalam paket wisata di Jawa Tengah. Pengen tahu lebih lanjut tentang perjalanan kami di sana, baca terus tulisan ini ya…

Perjalanan kami awali dengan kumpul bareng di Kontrakan Mahasiswa Kontrol 08 daerah Bulusan Semarang sekitar jam sepuluh pagi. Kami memutuskan untuk pergi ke Ambarawa menggunakan sepeda motor karena biayanya murah meriah, alasan lainnya yaitu diantara kami gak ada yang bisa nyetir mobil jadi terpaksa bawa’ motor deh. Hehe… Namun untuk temen-temen yang mau naik kendaraan umum juga bisa, karena Ambarawa terletak antara jalur utama Semarang – Magelang banyak bus-bus antar kota yang lewat disana dengan jarak tempuh satu hingga dua jam. Kalau naik bus nanti turun di pertigaan Monumen Palagan Ambarawa, setelah itu bisa naik angkot atau ojek untuk menuju ke Museum KA Ambarawa. Karena kami berangkat sembilan orang, total motor yang kami gunakan adalah lima. Berangkat pukul sepuluh pagi dengan rute perjalanan Semarang – Ungaran – Bawen – Ambarawa dengan perkiraan sampai ditempat tujuan sebelum dzuhur. Ketika perjalanan menggunakan motor harus lebih berhati-hati, karena melalui jalur antar provinsi yang dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan besar dengan jalur yang padat. Daerah yang rawan kemacetan adalah kawasan Kota Ungaran, Pasar Babadan, Pasar Karang Jati, dan Pasar Ambarawa. Sebelum dzuhur kami sudah sampai di daerah Bawen, sesuai kesepakatan sebelum ke museum kami singgah dulu di rumah temen di dekat Terminal Bawen yaitu di rumah Jamal ( red – nama tenar dari Bayu Gigih. Hehe). Saat tiba di rumah Gigih pas adzan Dzuhur, kami langsung pergi ke Masjid dan setelah itu makan siang bareng. Makasih buat Gigih dan keluarga atas jamuan makan siangnya maaf kami sudah merepotkan ( Alhamdulillah, sering – sering ya Mal, haha). Setelah shalat dan makan siang kami meneruskan perjalanan ke Museum, walaupun cuaca saat itu mendung dan sedikit gerimis.

Kami sampai di Museum sekitar jam satu siang lebih, saat itu berbarengan dengan rombongan wisatawan dari Kudus sehingga suasana cukup ramai, gak seperti yang kami bayangkan. Untuk tiket masuk Museum yang sebetulnya dulunya merupakan Stasiun KA yang disulap menjadi tempat wisata itu seharga Rp 5.000,-/ orang . Museum ini sebenarnya adalah Stasiun Kereta Api Kuno peninggalan Kolonial Belanda sejak tahun 1873 ( Wah keren ya udah hampir satu setengah abad ternyata. Ckckck.. ), yang saat ini bernama Stasiun Willem I yang masih menghubungkan antara Stasiun di Tuntang dan Stasiun Willem II di daerah Jambu yang dapat ditempuh dalam waktu 2 – 3 jam. Wisata yang dapat kita nikmati di Museum KA Ambarawa antara lain:

1. Wisata sejarahnya tentunya
2. Bangunan Stasiun Arsitektur Belanda yang masih terawat
3. Benda-benda bersejarah yang terpajang di ruang pameran dan sudut – sudut stasiun ( coba liat barang – barangnya aneh – aneh dan keren – keren tentunya)
4. Belasan Lokomotif yang terpampang di depan stasiun
5. Wisata kereta Lori seharga Rp 10.000,-/orang dengan kapasitas minimal 20 orang melalui rute dari Stasiun Willem I ke Stasiun lama di Tuntang, pemandangannya sangat indah dari pedesaan, perbukitan, sawah – sawah , Rawa Pening, dan pemandangan pegunungan yang ciamik banget…
6. Wisata kereta ketel uap dengan tujuan Stasiun Willem II di daerah Jambu dengan biaya Rp 3.500.000,- sekali jalan dengan kapasitas maksimal 40 orang. Pemandangan yang ditawarkan tak cukup kalah menariknya dengan kereta lori dan yang paling menarik ketika kereta mendaki bukit dengan menggunakan roda bergerigi. Namun sayangnya fasilitas ini beroperasi ketika ada kunjungan turis dari luar negeri atau sedang musim liburan saja.
7. Pusat jajan dan cinderamata di samping stasiun

Itu kan banyak yang agenda yang bisa kita lakukan ketika berada disana, jangan lupa bawa kamera atau alat buat dokumentasi ya, banyak spot-spot yang bagus untuk photo – photo. Setelah kami membeli tiket kami langsung melakukan ekspedisi mengelilingi stasiun. Banyak ruang – ruang yang digunakan untuk pameran, ada alat perkeretaapian yang kuno, jam antik yang sangat besar, skema jalur kereta api, dan symbol kebanggaan dari museum yaitu Roda Bergerigi. Dan tidak hanya itu saja, masih banyak barang – barang bersejarah yang lain. Setelah menjelajah di dalam stasiun kami ke luar ke halaman untuk melihat – lihat lokomotif berbagai bentuk yang unik – unik. Setelah itu kami teruskan menaiki kereta lori menuju stasiun lama di Tuntang dengan lama tempuh sekitar satu jam. Untuk naik kereta ini kami harus menunggu rombongan lain agar memenuhi jumlah minimal penumpang yaitu dua puluh orang. Namun sayangnya saat itu sedang gerimis sehingga suasana berkabut dan membatasi jarak pandang saat di perjalanan, tapi walau begitu pemandangan yang terlihat sudah cukup bagus koq.

Museum KA Ambarawa sebenarnya tempat yang menarik untuk dimasukkan dalam daftar wisata keluarga, namun sayangnya perawatan stasiun dan lokomotif terlihat kurang maksimal,kawasan pendukung sekitar stasiun kurang terawat, lokomotif – lokomotif kuno sudah mulai keropos apalagi ditambah dengan letaknya di out door yang rawan terhadap perubahan cuaca. Namun dilihat dari kelebihan dan kekurangannya, jika diberi nilai 1 – 10 Museum KA Ambarawa akan saya beri nilai 8 dan saya rekomendasikan untuk tempat berwisata. Itulah perjalanan wisata kami ke Museum KA Ambarawa dimana total biaya yang ditanggung tiap orang tidak melebihi Rp 40.000,- , dan untuk penutup perjalanan, kami melakukan wisata kuliner dengan pilihan makanan “ Sego Godhog ” di daerah Bawen saat pulang ke Semarang dimana sebelum menuju tempat itu ada incident ban bocor by Huda dan saya di depan museum, sorry ya Hud ban mu bocor…

Special thanks to :
1. Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya
2. Gigih dan keluarga atas makan siangnya
3. Yang jual “ Wedang Ronde “ di Museum yang bikin badan anget abis kehujanan pas naik lori
4. Tukang tambal ban di deket Monumen Palagan Ambarawa, makasih ya pak..
5. Militansi Tim Wara – wiri : Jamal By Gigih, L2K, Reza D, Bambang, Sukri, Arsyad, Ezu, Huda maturnuwun atas semuanya, next destination friend…

« »